Monthly Archives: May 2016

Waspadai.. Jangan Sampai Sakit Jantung Ini Menimpa Anda

Di usianya yang masih 33 tahun, Heru Budiono sudah divonis menderita penyakit jantung koroner. Keadaan itu membuatnya terkejut dan frustrasi. Penyesalan selalu datang terlambat, tapi Heru berusaha memperbaiki keadaan. Simak kisahnya berikut ini.

Sebagai seorang editor surat kabar, pekerjaan saya sehari-hari hanya menatap layar komputer sampai 10 jam lamanya. Ketika sudah di meja kerja, saya hanya duduk sepanjang hari di kursi tanpa melakukan kegiatan fisik yang berarti. Saat istirahat tiba, saya menghabiskan waktu bersama teman kantor untuk meminum kopi sambil merokok. Saya memang kurang suka makan dan lebih memilih merokok dan minum kopi ketika istirahat.

Setiap hari Minggu, saya dan teman kantor selalu bermain futsal di lapangan indoor daerah Surabaya Selatan. Waktu itu, kami berjanji untuk berkumpul di lapangan pukul 19.00. Sesampainya di lapangan indoor futsal, saya berjalan menuju loker untuk menitipkan sepatu dan tas besar berisi kaos dan celana pendek untuk ganti. Salah satu teman memanggil saya di balik loker supaya bergegas menuju lapangan.

Kami dibagi menjadi dua kelompok, yang masing-masing kelompok sejumlah 2 orang. Saya selalu menjadi rebutan antarkelompok karena energi saya selalu unggul daripada mereka. Memang, di antara teman kantor, saya paling muda. Usia saya 33 tahun dan masih single. Dalam urusan menggiring dan memasukkan bola ke gawang, saya jagonya.

Entah mengapa pada saat pertengahan pertandingan, saya merasa badan saya tiba-tiba lemas. Saya merasa pusing dan mual. Saya pikir penyakit lambung saya kambuh, tapi sepertinya bukan karena lambung. Selain lemas, pusing, dan mual, jantung saya berdebar cepat dan tidak beraturan. Tiba-tiba, kedua kaki terasa ngilu dan saya ambruk. Semua teman kantor yang bermain futsal pun menghentikan permainannya dan memastikan kondisi saya.

“Her, kamu kenapa, Her?” Mereka pun cemas.

Dengan penglihatan yang sedikit buram, saya bisa melihat kening mereka berkerut. Namun, saya tidak bisa menjawab dan hanya memegang jantung saya yang berdebar kencang. Mereka menduga bahwa saya terkena serangan jantung sehingga langsung melarikan saya ke rumah sakit menggunakan mobil salah satu teman.

Selama perjalanan ke rumah sakit, saya mendapati seluruh tubuh banjir keringat. Keringat yang membanjiri tubuh saya sangat dingin. Bahkan, lebih dingin daripada ketika saya terserang demam. Rasa mual berlanjut dengan nyeri dada. Dada saya terasa panas dan tertekan benda berat. Karena dada saya seperti ditekan, rasanya saya mengalami kesulitan bernapas. Saya menduga akan mati di usia saya yang masih 33 tahun karena merasakan rasa sakit yang menjalar di tubuh. Nyeri dada tersebut merambat sampai ke lengan kiri dan rusuk.

Tuhan, tolong tunda kematian saya. Saya ingin bertemu ibu saya terlebih dahulu.

Saya memohon agar Tuhan tidak mencabut nyawa saya saat itu. Ibu saya di Jombang pasti akan terpukul melihat anaknya mati setelah bermain futsal. Sebagai tulang punggung keluarga, saya pun menjadi kebanggaan satu-satunya bagi Beliau.

Beruntung, setelah sampai ke rumah sakit, saya langsung ditolong dokter jaga. Saya diberi selang di hidung untuk membantu pernapasan. Dokter memeriksa dada saya dengan teliti menggunakan stetoskop. Setelah itu, dokter memberikan isyarat pada suster untuk membawa saya di ruang khusus pemeriksaan jantung. Saya bisa melihat grafik jantung naik turun di layar. Itu jantung saya. Detak jantung saya tidak stabil. Setelah melakukan pengecekan ini-itu, dokter pun menyimpulkan bahwa saya menderita penyakit jantung koroner.

Awal Baru Sebagai Penderita Jantung Koroner

dokter memeriksa sakit jantung

Vonis dokter membuat hidup saya kacau. Dokter mengatakan ada pembuluh darah jantung yang mengalami penyempitan. Hal itu mengakibatkan kebutuhan oksigen ke otot jantung tidak terpenuhi. Denyut jantung yang berkontraksi kuat seperti yang saya rasakan kemarin diakibatkan oleh menegangnya ventrikel. Karena ventrikel menegang, ketersediaan oksigen pun terganggu.

Sakit jantung koroner yang saya derita diakibatkan karena adanya timbunan atau plak yang mengandung lipoprotein, kolesterol, sisa-sisa jaringan, dan terbentuk kalsium di intima. Dokter menanyakan beberapa pertanyaan kepada saya.

“Apakah Anda merokok setiap hari?” kata dokter.

Saya mengangguk sambil menjawab “iya” dengan lemah.

“Apa Anda meminum alkohol?”

Saya menggeleng. Sebagai seorang muslim, saya tidak diperbolehkan meminum alkohol.

Dokter mencatat sesuatu di dalam map berwarna biru gelap yang ada di tangannya.

“Apa Anda sering meminum kopi dan memakan makanan instan?”

Saya mengatakan sering meminum kopi setiap istirahat kerja padanya. Dokter mencatat lagi, lalu memberikan saya wejangan.

Plak yang menyebabkan pembuluh darah jantung saya menyempit disebabkan karena kekurangan oksigen dan zat gizi sehingga menyebabkan infark. Penyakit ini juga ditimbulkan karena kolesterol yang tinggi. Orang dewasa yang merokok, sering memakan makanan berlemak seperti gorengan, meminum alkohol, dan kopi berisiko menderita penyakit jantung koroner lebih tinggi karena kadar kolesterol jahat atau LDL yang tinggi di dalam darah.

“Sebaiknya mulai sekarang, Bapak menghentikan kebiasaan merokok dan meminum kopi. Kafein pada kopi dan zat yang terkandung pada rokok tidak baik untuk kesehatan pembuluh darah jantung. Jika Bapak terus mengonsumsi kopi dan rokok, pembuluh darah menyempit akan tertutup seutuhnya. Kondisi tersebut mengakibatkan serangan jantung. Darah yang membawa oksigen ke jaringan dinding jantung akan terhenti. Jika darah yang membawa oksigen ke jantung terhenti, Bapak pasti tahu apa akibatnya,” ucap dokter dengan tersenyum.

Pikiran saya pun langsung melayang ke ibu saya. Sebagai anak tunggal, saya tidak ingin ibu sendirian di dunia ini. Bapak sudah meninggal setahun lalu karena diabetes. Ibu pasti terpukul jika mengetahui saya menderita sakit jantung koroner.

Setelah keluar dari UGD, seorang perawat mengantar saya untuk menebus obat jantung. Saat akan ke loket, saya bertemu dengan teman kantor saya yang bermain futsal tadi. Mereka menunggu di lobi selama saya diperiksa. Saya begitu salut dengan mereka. Mereka menyemangati saya dan mengatakan bahwa segala sesuatu pasti bisa diatasi dengan baik.

“Bapak Heru Budianto,” panggil petugas loket obat yang bersebelahan dengan meja resepsionis.

Saya segera datang ke sana untuk menebus obat. Ada banyak obat dan kapsul yang diberikan. Melihatnya saja, saya sudah bergidik ngeri. Sejak saya divonis dokter mengidap sakit jantung koroner, saya mulai mengubah hidup saya. Setiap jam istirahat, saya menolak dengan halus ajakan teman untuk merokok dan minum kopi. Saya bertekad untuk mulai hidup sehat. Saya mulai mengonsumsi oatmeal yang baik untuk jantung. Saya menghindari rokok dan asap rokok. Saya memilih jalan kaki setiap hari minggu dan mengurangi bermain futsal. Kesehatan sangat berarti ketika sudah terserang penyakit. Saya harus tetap hidup dan sehat karena ibu saya. Saya berjanji pada diri sendiri agar tetap sehat supaya bisa melihat senyum ibu sampai tua nanti.